twitter
Tristar Culinary Institute Jakarta
Telp: 021-5380668. Fax: 021-53155652.
HP: 081234506326, 081286358533. PIN BB: 53B4FED8, 2A96E298.
Ruko BSD Sektor 7. Blok RL 31-33. Serpong - Tangerang.

Sekolah Masak & Akademi Perhotelan

SEKOLAH TATA BOGA - SEKOLAH KULINER
Program Pendidikan Kuliner Diploma 1, D2 dan D3

Sistem Studi : Praktek Setiap Hari

Jurusan :
Patiseri (Baking & Pastry)

Tata Boga (Kuliner)


Jenjang Studi lanjutan S1 & S2 di Swiss.

Dengan jurusan : International Hotel and Tourism Management.


Jln. Raya Jemursari no. 244. Surabaya.

Telp: 031-8433224-25.

Flexi: 031-81639992.

HP: 0817321024.

Email: tristarkuliner@yahoo.co.id


*************************************

TRISTAR CULINARY INSTITUTE

Visi & Misi

Stuktur Kurikulum

Fasilitas

Biaya Perkuliahan

Info: Kursus Tristar 031-71933131 - 081332004197




Informasi:

*Kursus Tristar Kaliwaron

Jln. Kaliwaron 58-60. Surabaya

Jadwal Kursus Tristar Kaliwaron.

Tarif Kursus Privat di Tristar Cabang Kaliwaron.

Kids Cooking Class bersama Tristar Culinary Institute

Aneka Mesin & Peralatan Home Industry

Poduct List Tristar Machinery


*Anda ingin membuka Cafe?

Ikuti Kursus Cara Membuat Cafe

Kursus Minuman Cafe di Tristar Kaliwaron

Pages

Figur


Figur:
“Sang Profesor” dan Matoa

Ir Juwono Saroso


          SIANG itu, suasana lobi kampus Majapahit Tourism Academy (Matoa) ramai sekali. Para mahasiswa berpakaian seragam ala chef profesional: baju putih berpadu bawahan warna gelap pada ngumpul. Mereka istirahat, setelah setengah hari menimba ilmu. Ada yang bercengkerama di pilar gedung yang dilingkari kursi santai. Tak sedikit pula yang menyatu dalam meja makan yang tersedia di café kampus.

          Di tempat yang sama, tampak, pria berpakaian rapi berbaur di antara para mahasiswa. Sesekali, dia melihat handphone di tangannya, sembari melirik tamu yang datang. “Apa kabar profesor,” sapa seorang wanita paruh baya. Pria berkacama minus itu menjawabnya dengan ramah sembari melempar senyum. “Puji Tuhan, kabar baik,” ucap pria yang membalut tubuhnya dengan kemeja bergaris vertical warna terang ini.

          Ya, begitulah keseharian Ir Juwono Saroso, Presiden Direktur Tristar Group. Kendati posisinya sudah menjadi pimpinan, dia enggan duduk manis di ruang kerjanya, yang berada di lantai dua. “Setiap hari saya harus face to face sama mereka. Biar saya tahu keluhannya dan kekurangan kita apa saja,” ucapnya kalem. Dan, kepedulian inilah yang membuat mahasiswa, serta para dosen dan pegawainya merasa nyaman tinggal di Graha Tristar, yang bertengger di Jalan Raya Jemursari 244.

          Saat disinggung soal sebutan “profesor” oleh tamu tadi, Juwono menyebut gelaran itu disandangnya sejak masa sekolah SMA. Maklum, sejak menamatkan studinya di Fakultas Kimia (MIPA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), dia memang belum lagi meneruskan karir akademisnya.  “Mulai temen sampai pendeta pada bingung, saya dikira profesor tenanan (beneran, red),” aku alumnus SMAK Saint Louis Surabaya ini, lantas tersenyum.

          Sebutan profesor tersebut, sebenarnya bukan tanpa alasan. Di lingkungan teman sekolah dan kuliahnya, Juwono memang dikenal cerdas, kreatif dan inovatif. Dia bukan hanya menguasai mata pelajaran dan kuliah, juga selalu menjadi bintang di kelasnya. Selain itu, dia juga gigih dan ulet dalam mengarungi perjalanan hidup. 



          Bakat Entrepenuer-nya mulai kelihatan sejak kecil. Diawali dengan membantu ibundanya berjualan kue Kuping Tikus, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Jajanan ringan ini, dia titipkan ke ibu-ibu mlijo di daerah Pandegiling Surabaya. Saat menginjak SMP, Juwono sudah menjadi  guru les privat organ dan piano. Dia benar-benar mandiri sejak usia sekolah. “Mama dan papa mengajarkan kepada kami agar tidak putus asa. Bekerja keras dan terus belajar,” tegasnya.

          Buah kerja keras dan belajar inilah yang membuat Juwono tidak  pernah goyah dengan dinamika kehidupan. Saat masih menjadi mahasiswa, dia sudah mampu menjadi investor sebuah home industry, yang memproduksi Stemvet & oli samping warna merah dan hijau untuk motor 2-tak. Hasil produksinya, dipasarkan di pedagang bensin eceran. Hanya dalam setahun, 1991-an, usahanya membooming. Dia pun harus mempekerjakan lima orang bergaji.

          Malang tak bisa ditolak. Tatkala usahanya mulai berkembang pesat, salah seorang sales yang direkrutnya, ngemplang uang perusahaan. “Uang tagihan  dipakai kepentingan pribadi. Tentu saja klien saat ditagih marah-marah,” kenangnya. Akibatnya, pelanggan tersebut melaporkannya ke pihak yang berwajib. “Saya dituduh oli samping yang kami produksi tidak berijin,” imbuhnya.

          Karuan saja,  usaha yang diproduksi secara kolaborasi antara dosen pembimbingnya di ITS Anton J Hartono dengan Kakak Mamanya Liong Guan itu ditutup. Juwono pun harus bertanggungjawab. Dia habis-habisan berurusan dengan aparat. Harta benda hasil keringatnya ludes. Mulai piano, organ kesayangan, sampai mobil hasil tabungannya habis dilego. “Anda kan tahu sendiri, kalau berurusan dengan polisi, ibarat kita kehilangan kambing, sapipun melayang,” kilahnya.

          Efek dari peristiwa itu, membuat Juwono langsung kolaps. Dia menganggur setelah tamat kuliah. Beruntung sekali, ijazah yang digenggamnya pada 1991, bisa dipergunakan masuk menjadi karyawan PT Tambak Agung Abadi di Mojokerto. Di pabrik gula cair yang bahan bakunya dari singkong ini, dia ditempatkan di bagian Quality Control (QC) dan Research & Development (R&D). Hanya dua tahun bekerja, kemudian dia resign dan memilih pulang ke Surabaya.

          Juwono agaknya lebih suka bekerja yang sesuai dengan bidangnya, chemistry. Tak heran jika tawaran orang tua muridnya tak ditolak. Di PT Hair Star Indonesia (HSI)  inilah, dia meniti karir baru. Di perusahaan yang memproduksi rambut dan wig berkualitas ekspor dan pengapalan di AS itu, Juwono menduduki jabatan sebagai manajer R&D. Selama tiga tahun bekerja di HSI, pria supel ini mempelajari tentang shamphoo, conditioner, pewarnaan rambut, obat keriting dan sebagainya.




          Hasilnya? Ilmu tersebut bisa ditularkan kepada keluarganya  dengan membuka usaha home industry. Di rumah mama dan kakaknya, Juwono mampu memproduksi samphoo, conditiomer (cream bath), hand shop, sabun cuci piring dan pembersih lantai.

          Dirasa sudah cukup menimba ilmu di HSI, dia mencari tantangan baru. Bekerja sebagai tenaga marketing dan technical support PT Ardaya, yang bergerak di bidang supplier chemical. Pekerjaan ini dijalaninya selama tiga tahun sejak 1994. Juwono sengaja memilih pekerjaan barunya, agar usaha orang tua dan kakaknya berjalan lancar. Selain itu, dia juga bisa berkomunikasi dengan pabrik-pabrik kosmetik sekelas PT Johnson and Johnson, Unilever, La Tilips dan berbagai home industry terkait.

          Ada satu lembaran sejarah yang sulit dilupakan. Yaitu,  saat menjelang hengkang dari PT HSI ke PT Ardaya, Juwono bertemu dengan seorang gadis bernama Evi Muliasari Dewi. Gadis tamatan  Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) ini yang menggantikan posisinya. Namun sebelum meninggalkan perusahaan, dia harus men-training Evi selama dua bulan. Bak gayung bersambut, benih cinta kedua insan ini akhirnya bersemi. “Awalnya saya gak mengenalnya. Tapi, namanya witing trisno soko nggelibet, akhirnya dia jadi istri saya,”  kenang Juwono dengan wajah sumringah.

          Bersama Evi, Juwono mulai membuka lembaran usaha baru. Mereka membuka home industry di rumah kontrakan Jalan Medokan Ayu. Bidang usaha membuat pelembut pakaian itu, berhasil diproduksi untuk laundry di perhotelan. Di tahun yang sama, 1997, dia bekerjasama dengan salah seorang importer bahan kimia, PT Sinar Kimia membentuk perusahaan baru PT Tricipta Agung Sejahtera. Bersama Freddy dan Ronny, dia berbagi saham.

MENIKAHI EVI MULIASARI DEWI

Evi Mulyasari Dewi

          Usaha partneran ini dijalaninya selama setahun. Pada tahun 1998, Ir Juwono Saroso akhirnya menentukan pilihan menikahi Evi Muliasari Dewi. Pengantin baru ini lantas mengurus ijin usaha sendiri dengan mengibarkan bendera CV Tristar Chemical. Nah, saat itulah awal mulanya nama Tristar muncul. “Kami memilih nama Tristar itu  nggak ada tujuan dan arti apa-apa. Pokoknya nama itu baik dan saya tidak berfikir soal filosofinya,” kenang Juwono.

          CV Tristar Chemical sendiri kala itu, hanya memproduksi pelembut pakaian tanpa merek dan menjualnya secara curah. Harganya murah karena tanpa kemasan. Selain memproduksi, perusahaan ini juga membuka peserta kursus (pelatihan), meski sebelumnya sempat ditentang orang tuanya.

          Keputusan mengintegrasikan kursus dan jual bahan baku itu ternyata berbuah manis. Pasalnya, saat kursusan ramai dan peminatnya antre, maka permintaan bahan baku dan mesin juga meningkat. Dia pun harus mendesainkan sendiri mixer untuk sabun, shampoo dan produk kosmetik.

          Jadi setelah kursus, peserta beli bahan baku. Selanjutnya peserta pesan mesin untuk mendukung produksinya. Dampaknya, usaha Juwono ramai dan bahan baku serta mesin pendukungnya laris manis. Pelaku industri rumahan pun, tumbuh bak jamur di musim penghujan.

          Merasa tersaingi, beberapa perusahaan besar membuat second produk dengan harga bersaing dengan produk industri rumahan. Misalnya, So Klin meluncurkan Daia (sabun low end), Molto keluarkan produk pelembut pakaian dan pewangi dengan harga ekonomis. Akibatnya, sejumlah pelaku industri rumahan terpukul, usahanya jadi sepi dan tidak menarik lagi untuk pelaku bisnis ini. Bahkan  tidak sedikit pelaku usaha ini yang terpaksa gulung tikar.

          Untuk membangkitkan semangat usaha pelaku industri rumahan, Juwono dan Evi memberi solusi dengan menambah varian kursus. Misalnya dengan mulai mengajarkan cara bikin sirup, permen, minuman dalam kemasan, snack (chiki-chiki secara manual), yang terinspirasi dari pengalaman membuat kuping tikus.

          Dulu lapisan kuping tikus hanya dibalut gula, sekarang dikreasi dengan rasa barbeque, keju dan balado. Bumbu tersebut ternyata cocok untuk kentang goreng bumbu (french fries). Ini dilakoni antara 1999 hingga 2000-an. Kursusan yang paling ramai peminatnya adalah Jelly Cup dan Nata de Coco. Dari sini pihaknya kenal dengan Nani Wijaya dan Vivi (dari Tabloid Nyata dan Koki).

          Dia pun membuka pelatihan Nata de Coco, pelatihan membuat snack, pelatihan membuat permen, pelatihan membuat minuman dalam kemasan sampai dengan pelatihan aneka handicraft (lilin, tempelan kulkas, daur ulang kertas, souvenir pernikahan dan sejenisnya). Dari pengalaman ini, dirinya kemudian mencari guru-guru (pengajar) yang ahli di bidangnya agar pelatihan bertajuk Home Industry Class (HIC) yang didukung media cetak tersebut mendapat respons luar biasa dari masyarakat.

          Dari perkenalan degan Nani Wijaya itulah, dia akhirnya juga kenal dengan Harian Radar Surabaya dan selanjutnya berkolaborasi menggelar pelatihan membuat cat tembok, pelatihan chroom, pelatihan membuat rokok, pelatihan otomotif cleaner (membuat shampoo mobil) dan sebagainya.




           Untuk menggarap pelatihan food industry, dirinya merasa selalu mendapat saingan dari pelaku industri besar, yang impor permen dan minuman dalam kemasan dari luar negeri seperti  frutang, ale-ale, inaco, wong coco, sirup ABC low grade, dan sebagainya. Akibatnya, usaha food industry skala rumahan terpukul lagi.

          Menyikapi hal tersebut, dirinya banting setir dengan membuka pelatihan bikin bakso dan mie, meskipun sudah ada mie instan buatan pabrik besar, tetapi usaha ini masih berkibar, seperti mie ayam kaki lima tetap jalan. Untuk pelatihan ini peserta diajarkan dengan menggunakan mesin-mesin industri dan manual.

          Selain itu, peserta pelatihan membuat bakso dan mie juga dikenalkan cara menggunakan mesin pencetak bakso, mesin giling mie, mesin presto bandeng, ayam tulang lunak, dan sebagainya.

          Terinspirasi pelatihan kuliner yang melibatkan guru-guru dari luar, pihaknya bisa kenal dengan chef Fuuzi dari Hotel Tunjungan. Chef Fuuzi mengajarkan cara membuat kebab Turki ala Baba Rafi.

          Dia juga kenal baik dengan Yanuar Kadaryanto saat mencoba bikin siomay dan siobak. Selain itu, juga kenal dengan Cicilia dan Petrus untuk belajar meramu minuman café ala hotel berbintang. Tidak hanya itu, dirinya juga bisa kenalan dengan Otje Wibowo ketika kali pertama menggelar pelatihan cara membuat terang bulan.

TRISTAR
          Sekitar 2007, atas masukan dari Titi Kasiati, Cicilia, Tri Hartono, Otje Wibowo dan Yanuar Kadaryanto, mereka mengusulkan kepada pihaknya membuka sekolah kuliner. Akhirnya sepakat menggelar meeting dan rapat-rapat intensif di Golden City Mall (Goci Mall), kawasan Dukuh Pakis Surabaya, sehingga lahirlah Tristar Culinary Institute (TCI) pada 7 Januari 2008. Kantor dan tempat pelatihannya di Jl Raya Jemursari 234 Surabaya.

          Dalam kurun waktu tiga tahun, TCI semakin berkibar. Nama TCI mulai diperhitungkan pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan usaha kuliner dan industry pariwisata (tour & travel dan perhotelan). Lompatan besar dilakukan Juwono yang memboyong TCI sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan menempati gedung baru Graha Tristar pada 29 November 2011. Gedung baru berlantai lima yang berlokasi di Jl Raya Jemursari 234 ini didesain  mewah dan sangat representatif untuk kegiatan belajar mengajar para mahasiswa jurusan pastry, culinary, tour & travel dan perhotelan.

          Pasalnya, Graha Tristar ini didesain sedemikian rupa sehingga para mahasiswanya betah belajar di kampus karena selain tersedia ruang kelas ber-AC, juga tempat praktik yang representatif.  Pengelola Tristar Culinary Institute –sekarang berkembang, namanya menjadi Akademi Pariwisata Majapahit—di bawah Yayasan Eka Prasetya Mandiri, juga melengkapi gedung barunya itu dengan berbagai fasilitas penunjang seperti  laboratorium tour planning & guiding, lab front office, lab bartending, lab housekeeping, lab laundry & pastry, ruang perpustakaan, fasilitas wi-fi  untuk internetan.

          Di gedung baru Graha Tristar tersebut juga dilengkapi ruang receptionist, front office, ticket counter, café, toko bahan kue, dapur pastry dan culinary berstandar internasional,  lobi yang luas dan nyaman. Tak heran jika dalam kiprahnya selama ini, Akpar Majapahit banyak diminati calon mahasiswa yang ingin memerdalam pendidikan di bidang pastry, culinary, tour & travel dan perhotelan, dengan Gelar D3 (ahli madya).

          ”Sementara itu, tenaga pengajarnya adalah dosen-dosen profesional di bidangnya seperti Otje Wibowo, Yanuar kadaryanto dan sejumlah praktisi industri jasa pariwisata demi memujudkan learning by doing and being. Diantara dosen-dosen itu sekarang menempuh kuliah S-2 sesuai bidangnya masing-masing,” kata Hedy W Saleh, Direktur Akpar Majapahit.

MATOA
          Kiprah Ir Juwono Saroso di bidang pendidikan ini benar-benar tidak bertepuk sebelah tangan. Tidak sedikit masyarakat yang tahu akan sepak terjangnya. Sukses Akpar Majapahit di Surabaya, telah mengilhami lahirnya kampus-kampus baru. Di Surabaya, Akpar Majapahit sudah membangun tempat pendidikan lagi yang dinamai Tristar Istitute yang berlokasi di Jalan Kaliwaron. Di Tangerang juga berdiri Tristar Institute, yang kampusnya berdiri di Bumi Serpong Damai (BSD).

          Tristar Institute lebih menitikberatkan pada bidang profesionalisme dan non-gelar. Mereka hanya belajar dua tahun. Tapi, menurut Juwono, mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi di Akpar Majapahit. Selain mengembangkan sayap di BSD dan Kaliwaron, Akpar Majapahit juga bekerjasama dengan Pemerintah Timor Leste membuat Kristal Fundacao. “Universitas Trisakti Jakarta juga kami gandeng sebagai kepanjangtanganan Akpar Majapahit,” jelasnya sembari menyebut ada 15 orang dosen dari Akpar Majapahit yang mendapat kesempatan melanjutkan kuliah S-2 di Trisakti.

          Juwono mengakui seiring pesatnya perkembangan Akpar Majapahit yang telah melahirkan alumnus serta dosen yang berkualitas, pihaknya merasa perlu mewadahi mereka dalam satu lembaga tersendiri. Adalah Matoa, nama yang dipilihnya. Matoa adalah kependekan dari nama Majapahit Tourism Academy. “Legalitas Matoa sedang kita proses akte notarisnya,” katanya.

          Matoa inilah yang nantinya akan menjadi ujungtombak pengembangan usaha Akpar Majapahit. “Saya berharap para dosen dan alumni bisa menjadi pendamping atau konsultan para entrepreneur yang ingin membangun, mengembangkan usahanya yang selaras dengan program pendidikan di Akpar Majapahit,” jelas Juwono.

          Mengapa memilih nama Matoa? Alasannya cukup sederhana. Matoa dipilih lantaran saat membuat website nama Majapahit.com dan Tristar.com sudah ada yang memakai. Begitu pula nama Matoa.com. “Akhirnya saya pakai nama matoa.info.com,” jelasnya. Nah, dengan adanya Matoa.info ini, telah mengilhaminya untuk membuat majalah sendiri sebagai sarana info tentang seluk beluk Majapahit Tourism Academy (Matoa)

          Terlebih lagi, kata Matoa mudah diucapkan dan semua orang tahu bahwa Matoa juga dikenal sebagai nama buah terkenal di Papua. “Cuma saya tidak pernah tahu buah dan rasanya,” aku Juwono seraya mengaku tidak punya pikiran filosofis ketika memilih nama institusi yang akan dipatenkan itu.

          Yang pasti, dia berharap Matoa nantinya memliki branding yang tak kalah ngetopnya dari Tristar dan Akpar Majapahit. “Saya berharap bisnis-bisnis kami mulai dari bisnis café, travel dan klinik kecantikan, hotel dan restoran akan di-manage Matoa. Site bisnis kami nanti di-manage by Matoa,” jelas Juwono. “Kalau Jawa Pos punya Radar-Radar di daerah-daerah. Salim Group juga punya perusahaan seperti Indofood dan Indo-Indo lainnya. Kami juga punya Matoa di mana-mana,” tegasnya.

          Itu sebabnya, dia perlu menamai media internalnya dengan Matoa. Terbitnya majalah mini ini, semua informasi tentang Matoa akan tersampaikan sesuai dengan keinginan manajemen. “Kalau kita punya media sendiri, semua memori akan terabadikan. Pasti akan bisa disimpan dan bermanfaatkan buat mereka (mahasiswa) setelah lulus nanti,” ungkap Juwono. (*)



Toko 9 - Menyediakan Bahan Kue - Kebutuhan Kuliner - Teknologi Pangan

TOKO 9: Sediakan Bahan Bahan Pembuat Sosis Berkualitas Tinggi

Toko 9
Sby  PIN BB: 2A320EE6.
SMS & WA; 0818236789

          TAK SEMUA  pengunjung tahu. Kampus MATOA (Majapahit Tourism Academy) yang bertengger mewah di Jalan Jemursari 244 , terdapat stan yang menjadi urat nadi perguruan tinggi kulineri, tour & travel dan perhotelan itu. Ruangannya tidak mencolok, tak semewah café dan ruang lobi. Cukup sederhana dan menepi di sudut kanan bawah tangga yang diapit meja fron office. Dialah TOKO 9 !
Toko 9
Sby  PIN BB: 2A320EE6.
SMS & WA; 0818236789

          Toko inilah yang menyajikan perlengkapan masak-memasak yang diperlukan semua mahasiswa MATOA. “Bahan masakan apa saja tersedia di sini,” aku  Yeremia Soebandi, Kepala Purchasing & Store TOKO 9. Mulai bahan dasar membuat kue dan masakan dari lokalan sampai impor. Khusus barangan luar, MATOA mendatangkan bahan dari Thailand, Cina, Korea dan Jepang.
 
           Sehingga para mahasiswa MATOA yang setiap hari praktik memasak tidak perlu harus berbelanja di luar. Juga tidak perlu harus membontot dari rumah atau kos-kosan masing-masing. Mereka cukup masuk ruang praktik atau laboratorium dan siap praktik. Baik untuk kulineri maupun pastry. Begitu pula para ibu-ibu yang mengikuti pelatihan harian di kampus ini. Tak perlu pusing mau belanja kemana?

          Pelayanannya juga tidak perlu eteng-eteng tas kresek dan sebagainya. Semua bahan pembuat kue dan masakan tersedia dengan lengkapnya. “Di TOKO 9, bahan-bahan food grade: mulai bumbu, tepung, bahan airminum dalam kemasan, bahan pelatihan sosis, tahu, pembuatan saus, minuman wine, hingga pembuatan permen jally, tidak akan kehabisan stok,” tegas Yeremia.


Yeremia

          Toko ini, menurut dia, juga tidak hanya melayani orang dalam. Alias mahasiswa yang sedang praktikum. Tapi masyarakat umum juga dilayani. Cuma yang paling sering belanja di TOKO 9, lebih banyak alumni MATOA. “Masyarakat umum tidak terlalu banyak. Padahal kami membuka pintu untuk mereka yang mau belanja di sini,” kata pria berkacama minus ini.

          Apa karena harganya lebih mahal dari harga pasar? Yeremia menampiknya. Harga yang dibandrol  di TOKO 9 memiliki standarisasi yang sama dengan harga di luaran. “Tapi barang yang kita jual jauh lebih bekualitas. Kami menyediakan barang yang fresh dang top quality,” ujarnya.

Toko 9
Sby  PIN BB: 2A320EE6.
SMS & WA; 0818236789

          Dari sekian bahan kue dan makanan yang laris manis dibeli orang luar adalah bahan sosis. “Kami menyediakan pengenyal sosis yang bukan berbahan borak. Bahan pangan yang masuk dalam food grade mulai dari aroma smoke oil, casing sosis, pengenyal, marinate sosisnya ada kita jual,” jelasnya. Bahkan, khusus untuk kaum vegetarian, juga tersedia bahan-bahan makanan pengganti daging dengan soya protein, yang beraroma kedelai dengan ISP (special).

          Begitu pula kebutuhan pengusaha café dan home industry, katanya tak ada yang kecewa setelah belanja di TOKO 9. Malah toko ini sering sekali mengirim pesanan di seluruh Indonesia dengan nilai paket 100 sampai 200 kg. Sedangkan pemesan dalam kota biasanya meminta kiriman 50 sampai 100 kg. “Jadi kami siap mengantar kemana saja,” aku Yeremia yang dibantu empat orang tenaga ini.

Toko 9
Sby  PIN BB: 2A320EE6.
SMS & WA; 0818236789

          Toko yang hanya dihiasi dua daun pintu kaca dan bertuliskan Purchasing & Store di sebelah kiri pintu ini, membuka usahanya mulai jam kerja. “Kami buka jam 08.00 pagi sampai jam enam sore. Hari sabtu buka sampai jam tiga sore. Kecuali ada janji sebelumnya kami buka lewat dari jadwal,” jelas Yeremia sembari menyebut omzet dagangannya bisa mencapai Rp 75-100 juta perbulan.

          Untuk informasi lebih lengkapnya, Yeremia menyebut pembeli bisa melihat email addresnya di www.food-ingredient.blogspot.com(amu)


Lipatgandakan Kualitas untuk Lahirkan Chef Internasional

Tristar Institute Kaliwaron


          PERLAHAN tapi pasti! Itulah gerak perkembangan Tristar Culinery Institute (TCI) pimpinan Ir Juwono Saroso. Dalam rentang lima tahun berkiprah, Juwono mampu mengembangkan usahanya di bidang pendidikan masak-memasak yang lagi booming itu. Salah satunya adalah  Tristar Institute Kaliwaron (TIK) yang baru lahir pada Oktober 2013

Foto Ospek Pertama Mahasiswa Tristar Institute Kaliwaron

          “Sebelum ini kami juga membuka kampus yang sama di BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang,” jelas pria yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Majapahit Tourism Academy (MATOA) ini. Selain itu, MATOA juga membidik Bali, Yogya, Makassar dan Timor Leste. “Doakan saja akan muncul tempat-tempat pendidikan yang sama di berbagai daerah,” ucapnya serius.

          Juwono bukan hanya bermimpi akan mengguritanya dunia pendidikan berbasis kulineri ini. Dia sudah melihat perkembangan dunia koki itu begitu pesat dan dapat dukungan dari masyarakat. Itu terbukti dengan adanya program kulineri di semua stasiun televisi. “Kami harus cerdas menangkap keinginan masyarakat itu,” tegas bapak tiga anak yang kedua putrinya sudah menjadi chef cilik ini. Putri pertamanya Fiona Angeline, pelajar kelas IX SMP Santa Maria pernah jadi Koki Cilik selama tiga tahun di TV Anak Spacetoon, dan adiknya Cindy Octavia, yang baru kelas  4 SD, sering tampil dalam acara masak untuk anak-anak yang di program Dahsyat RCTI.

           Itu sebabnya, Juwono bersama para stafnya ingin membaktikan diri di dunia pendidikan ini. Dia tidak ingin hanya berobsesi, namun bukti nyata dilakukan dengan daya upaya untuk membangun lagi  fasilitas belajar mengajarnya yang memadai. “Para dosen yang mengajar juga dosen pilihan,” kata pria berkacama ini. Terdapat tiga dosen muda usia yang memiliki kualitas di bidang kulineri dan pastry.


Yudha Agustian
          Adalah Yudha Agustian yang dilantik sebagai dosen utama sekaligus kepala akademik. Dari sentuhan chef muda yang di MATOA (Majapahit Tourism Academy) dikenal kordinator café dan ketua tim kreatif inilah, Juwono berharap TIK  mampu melahirkan chef handal dan profesional. Dan, target Juwono itu tak akan bertepuk sebelah tangan. Brondong jebolan MATOA pada 2009 itu yakin sekali bahwa TIK bakal mendongkrak kualitas lulusan yang tak kalah dengan mahasiswa mantan kampusnya.

          Mengapa? Modulasi pendidikan di TIK tidak sama. “Konsep pendidikannya menitikberatkan pada kemahiran mahasiswa dalam kulineri dan pastry,” tegas Yudha. “Mahasiswa Tristar Kaliwaron tidak hanya belajar memasak saja, tetapi juga belajar mempresentasikan menu secara Buffet & Set Menu . Mereka juga harus aktif berbahasa Inggris dalam kesehariannya,” sambung dosen tamatan SMA NEGERI 1 Batu ini.

          Yudha mengakui mahasiswa TIK harus aktif berbahasa Inggris, lantaran mereka nanti harus menjadi chef internasional.  Untuk mengaplikasikan pola pendidikan ini, TIK sudah menjalin kerjasama dengan institusi luar negeri. CEO Kapal Persiar Royal Carabian sudah menandatangi MoU yang berdurasi dua sampai tiga tahun. Selain itu juga ada Celebrity dan World Disney. Sehingga destinasi mereka bukan hanya pesiar di Asia Pasifik, tapi juga Eropa dan Amerika Latin. “Jadi siswa Tristar Kaliwaron nanti siap diberangkatkan ke kapal pesiar itu,” jelas Yudha sembari menyebut Royal Carabian juga member salery 1.200 sampai 1.400 USD perbulan.

          Bahkan, menurut dia, perusahaan Jerman Nort Event Humberg juga telah menjalin kerja sama khusus untuk intensif program selama enam bulan. “Matoa satu-satunya kampus perhotelan yang mengikat kerjasama dengan Nort Event. Dengan adanya jaringan ini, mahasiswa akan diuntungkan dengan link yang bisa bekerja dan berkarir di sana,” jelas Yudha bangga.

kerjasama dengan jerman


          Untuk menjadi mahasiswa di TIK, kata pria tampan ini, harus lulus seleksi minat dan bakat. ”Bahasa Inggrisnya kami nomor duakan, karena setelah masuk TIK, mereka akan dibimbing sambil kuliah agar lancar bahasanya,” sambungnya. “Yang jelas, di Kaliwaron pendidikannya  ketat dan disiplin waktu. Atticute dan caracter building kita utamanya,  karena mereka akan bekerja dengan dunia internasional,” tegasnya lagi.

          Format kuliahnya, tidak sama dengan program di MATOA. Mahasiswa TIK mendapat pelajaran seminggu teori dan seminggu kemudian praktikum. “Kalau mahasiswa Jemursari setiap hari praktik. Mahasiswa TIK tidak. Sehingga biaya praktik mahasiswa Tristar Kaliwaron lebih hemat,” akunya. Di TIK memiliki fasilitas satu laboratorium kulineri dan satu laboratorium pastry serta dua kelas teori.

          Keunggulan lainnya, menurut Yudha, di TIK menekankan pada pendalaman materi. Terutama basic teknologi pangan dan program kapal pesiar. Para mahasiswa hanya akan kuliah selama dua tahun di jurusan kuliner dan pastry. Mereka rata-rata berusia lulus SLTA  dan mahasiswa umum yang usianya maksimal 35 tahun. Bagi yang ingin meningkatkan statusnya bisa transfer kuliah ke Diploma-3 di MATOA atau ke S1 Culinary Busiiness.  “Angkatan pertama baru diikuti 15 mahasiswa yang didampingi satu dosen pastry, satu dosen kuliner dan satu dosen MKU (mata kuliah umum),” jelasnya.

          Agar mahasiswa nyaman belajar, pembangunan fisik gedung di Jalan Kaliwaron 58-60 itu, didesign dengan interior yang tak mau kalah dengan Kampus MATOA di Jalan Jemursari 234 Surabaya. Mulai  laboratorium pastry dan kulineri hingga Oost Cafe (Cafe dengan Nuansa Jawa & Belanda) ,  tempat praktikum mahasiswa amat representative. Malah ada ruang tata boga yang berbentuk hall yang  luas (Ballroom). Tempat ini akan dipakai mahasiswa untuk menyajikan hasil kuliahnya. Pujasera Bale Kliwon unt sarana belajar mahasiswa praktek kerja & mengelola Pujasera, dan  sedang dibangun San Xing Chinesse Resto yang akan menyajikan Masakan Oriental yang Halal.

          Diperkirakan pada tahun ajaran baru, Oktober 2014 nanti, TIK yang memiliki fasilitas lengkap ini, akan di Grand Opening-kan. “Kita sudah melakukan promo di kampus ekspo di kota-kota besar.  Mudah-mudahan animo masyarakat cukup antusias menyambut program pendidikan di Tristar Institute Kaliwaron ini,” harap Yudha. (amu)

Sekolah Masak - Pendidilan Tataboga - Akademi Kuliner & Perhotelan - Sekolah Kuliner Pencetak Chef - Belajar Bisnis Kuliner - Wira Usaha Tataboga - Belajar Mendirikan Usaha Cafe - Resto - Pujasera

Berwisata sembari Buka Cakrawala Mahasiswa

Study Tour


          UNTUK kali kedua mahasiswa perhotelan MATOA (Majapahit Tourism Academy) melakukan kunjungan wisata pelajar  atau Study Tour. Ini merupakan agenda kurikulum kampus yang harus dilakukan para mahasiswa. Setelah berwisata sambil belajar di Batu, pada 17-20 November 2013, mereka berkunjung ke  Pulau Dewata Bali.

          Bali menjadi destinasi kedua, lantaran di kota ini memiliki ragam pendidikan yang pas untuk 30 mahasiswa perhotelan. Di kota ini mereka bisa melihat dan merasakan langsung proses pengelolaan dan pelayanan hotel  bintang tiga sampai lima. “Sebagai orang hotelier mereka bisa merasakan saat dia bekerja nanti. Bagaimana posisi mereka sebagai tamu atau karyawan,” jelasnya.

          Selain itu, menurut Kaprodi MATOA Paulus Sutrisno S.st Par, para mahasiswa bisa mengambil pelajaran manajemen perhotelan yang ada di Surabaya, Batu dan Bali. Terlebih lagi, Bali memiliki resort yang tidak dipunyai kedua kota tersebut. “Dari sini, kami berharap mahasiswa bisa membuka cakrawalanya untuk menjadi bisnisman di bidang perhotelan dan seluk-beluknya,” jelas Paul.

          Selain study tour, MATOA juga bisa melirik peluang kerjasama antara manajemen dengan pihak perhotelan di Bali, jika ada mahasiswa yang ingin bekerja. “Ada tujuh hotel bintang lima dan hotel jaringan lain yang sudah kami gaet,” terang pria bersahaja ini.

          Selama di Bali, para mahasiswa  yang rata-rata sudah pernah berbisnis dan ingin mengembang dan mengkualitaskan usahanya juga tertarik di sektor lain. Terutama yang ingin mengembangkan usaha kulineri. “Tambahan ilmu yang didapatkan selama study tour akan menambah kemampuan mereka untuk berimprovisasi setelah lulus nanti,” aku Paul.

          Hal ini juga digarisbawahi oleh Yudha Agustian. Chef muda andalan MATOA tersebut melihat mahasiswa jurusan F&B (foot and baverage) juga mendapat pasokan ilmu dan pengalaman, saat berkunjung ke hotel berbintang lima. “Cocok untuk mereka yang akan berbisnis café,” ucap pengelola D’Histeria Café Rungkut Surabaya ini.

          Terutama saat mengunjungi resort di Pantai Pandawa Sanur. Lima mahasiswa yang tergabung di D’Histeria mendapat kesempatan pamer kebolehan. “Mereka bisa ber-flering juggling di hadapan pengunjung café, yang rata-rata pengunjungnya orang bule,” Yudha tersenyum.

          Diharapkan sepulang dari darma wisata anak asuhnya mampu mengombinasikan ilmu yang diperoleh di kampus dan di lapangan. Apalagi para mahasiswa semester tiga ini masih akan menyelesaikan study tour tingkat Asianya.  Adalah Thailand yang bakal menjadi destinasi sekitar 67 mahasiswa  pada Maret 2014. “Sebelum ini mahasiswa MATOA pernah study tour di Singapura, mengunjunginya sekolah internasional Singapura AT Sunrise,” jelas Yudha.

 KESAN MEREKA
          Cukup melelahkan memang, kunjungan wisata belajar para mahasiswa MATOA ini. Namun keletihan itu serasa sirna tatkala mereka bisa memetik ilmu yang selama ini tidak pernah didapatkannya. Hal ini diakui lima mahasiswa yang ditemui sepulang dari Bali.

          Arinta Girindra Wardana misalnya. Tamatan  SMA Sasana Bhakti Surabaya ini mengaku sudah bisa membayangkan jika setelah lulus nanti membuka usaha bar dan café. Antara teori di kampus dan praktek di lapangan sangat sinkron. “Malah saya akan mampu melakukan pengembangan dan inovasi,” akunya sembari tersenyum.

          Di sektor perhotelan, Arinta terarik dengan housekeeping. Terutama cara kerjanya yang kongkrit dan solid. “Waktu yang mereka butuhkan sangat pendek, tapi kami bisa menyelesaikan pekerjaan  room to room dengan cepat dan tepat,” katanya.

          Kesan Arinta ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Choirun Nisa juga mencatat hal yang sama. Gadis tamatan  SMK 3 Probolinggo, yang suka dipanggil Nisa Qoeen ini, terkesan dengan pelayanan terhadap tamu hotel. “Mereka murah senyum, ramah dan selalu kontak dengan tamu. Pelayan harus siap mendengarkan tamu serta merespon setiap pelayanan,” katanya.

          Khusus di study tour kali ini, Nisa sengaja memusatkan perhatiannya di bidang pastry. Ia tertarik sekali dengan kue muih yang tersaji di hotel bintang lima sekelas Aston Hotel. “Saya suka dengan coffee shop dengan display desert seperti cheese café, panakota, rainbow cake dan lain-lain. Di display panakota milsalnya, bisa diinovasi  dengan kiwi dan salat panakota.” Jelas mahasiswi yang pingin  jadi chef  dan inovator kue tradisonal dengan modern ini.

          Lain halnya dengan Hizkia Valeri. Mantan pelajar SMK 17 Agustrus Surabaya ini justru tertarik saat berkunjung di Sanbur Beach. Dia melihat peralatan loundry yang selama ini hanya bisa dilihat di buku-buku, kali ini bisa melihat langsung barangnya.  Terutama melihat proses mesin cuci hingga pakaian keluar jadi bersih dan rapi. “Saya tertarik usaha di bidang jasa untuk orang-orang rumahan yang ditinggal pembantunya mudik,” akunya.

          Selain itu, selama berstudi wisata dia sudah mulai bisa membedakan pelayanan dan pengelolaan hotel resort dan hotel bisnis. Pengunjung hotel resort yang berada di tempat wisata lebih banyak dipergunakan untuk bersantai. Sedangkan hotel bisnis pengunjungnya lebih banyak serius memikirkan pekerjaan dan usahanya.

          Begitu pula di mata Nurina dan Anastasia. Mahasiswi tamatan  SMK Satya Widya SBY dan SMA Hangtua Sidoarjo ini semakin paham tentang hotel berbintang dan tidak. “Di hotel Bintang Duua pelayanannya nggak ada. Kami dibiarkan dan di telantarkan. Tidak ada sambutan walaupun fasilitas hotel ada kolam renangnya,” keluh Nurina.

          Anastasia juga merasakan hal yang sama. Namun dia terkesan sekali ketika menginap di hotel bintang lima. “Rasa capek jadi hilang, karena happy fun. Banyak kenangan yang saya dapatin. Terutama bisa ngobrol sama turis sebagai praktek berkomunikasi,” kenangnya.

SESUAI JADWAL
          Agenda study tour mahasiswa MATOA sendiri tidak molor banget. Malah sesuai jadwal yang ditentukan. Hari pertama, mereka berkunjung ke  STP (Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dunia) selama tiga jam. Di kampus ini mahasiswa memperoleh materi perkenalan kampus serta Tanya jawab yang dihadiri senat.

          Hari kedua berkunjung ke hotel bintang 3 dan 4 di daerah Sanur. Aktivitasnya sama. Yaitu perkenalan dan melihat langsung pelayanan dan manajemen hotel, termasuk di hotel bintang lima, Aston Hotel. Dari sini, mahasiswa melanjutkan perjalanan ke wisata oleh-oleh di Krisna Denpasar.

          Sebelum kembali ke Surabaya, hari ketiga melakukan kunjungan ke travel besar di Denpasar, Astina dan mengunjungi Bedugul. (amu)


Sekapur Sirih


MATOA Tampil sebagai Pendamping Para Entrepreneur

          Ir Juwono Saroso sudah memetik buahnya. Usahanya di bidang pelatihan dan pendidikan pastry, kulineri, tour & travel dan perhotelan terus berkembang. Tak sedikit mahasiswa yang lahir dari tangan dinginnya untuk menjadi pengusaha kulineri sukses. Tak sedikit pula para ibu-ibu rumah tangga berhasil membuka usaha setelah mengikuti pelatihan di kampusnya. Bak jamur yang tumbuh di musim hujan.

          Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang dibangun Juwono ini benar-benar tidak bertepuk sebelah tangan. Tidak sedikit masyarakat yang tahu akan sepak terjangnya. Sukses Akpar Majapahit di Surabaya, telah mengilhami lahirnya kampus-kampus baru. Di Surabaya, Akpar Majapahit sudah membangun tempat pendidikan lagi yang dinamai Tristar Istitute Kaliwaron yang berlokasi di Jalan Kaliwaron. Di Tangerang juga berdiri Tristar Institute, yang kampusnya berdiri di Bumi Serpong Damai (BSD).

          Tristar Institute lebih menitikberatkan pada bidang profesionalisme dan non-gelar. Mereka hanya belajar dua tahun. Tapi, menurut Juwono, mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi di Akpar Majapahit. Selain mengembangkan sayap di BSD dan Kaliwaron, Akpar Majapahit juga bekerjasama dengan Pemerintah Timor Leste membuat Kristal Fundacao. “Universitas Trisakti Jakarta juga kami gandeng sebagai kepanjangtanganan Akpar Majapahit,” jelasnya sembari menyebut ada 15 orang dosen dari Akpar Majapahit yang mendapat kesempatan melanjutkan kuliah tingkat magister (S-2) di Trisakti.

          Juwono mengakui seiring pesatnya perkembangan Akpar Majapahit yang telah melahirkan alumnus serta dosen yang berkualitas, pihaknya merasa perlu mewadahi mereka dalam satu lembaga tersendiri. Adalah MATOA, nama yang dipilihnya. MATOA  kependekan dari nama Majapahit Tourism Academy. “Legalitas MATOA sedang kita proses akte notarisnya,” katanya.

          MATOA inilah yang nantinya akan menjadi ujungtombak pengembangan usaha Akpar Majapahit. “Saya berharap para dosen dan alumni bisa menjadi pendamping atau konsultan para entrepreneur yang ingin membangun, mengembangkan usahanya yang selaras dengan program pendidikan di Akpar Majapahit,” jelas Juwono.

          Mengapa memilih nama MATOA? Alasannya cukup sederhana. MATOA dipilih lantaran saat membuat website nama Majapahit.com dan Tristar.com sudah ada yang memakai. Begitu pula nama MATOA.com. “Akhirnya saya pakai nama matoa.info.com,” jelasnya. Nah, dengan adanya Matoa.info,com ini, telah mengilhaminya untuk membuat majalah sendiri sebagai sarana info tentang seluk beluk Majapahit Tourism Academy (MATOA)

          Terlebih lagi, kata MATOA mudah diucapkan dan semua orang tahu bahwa MATOA juga dikenal sebagai nama buah terkenal di Papua. “Cuma saya tidak pernah tahu buah dan rasanya,” aku Juwono seraya mengaku tidak punya pikiran filosofis ketika memilih nama institusi yang akan dipatenkan itu.

          Yang pasti, dia berharap MATOA nantinya memliki branding yang tak kalah ngetopnya dari Tristar dan Akpar Majapahit. “Saya berharap bisnis-bisnis kami mulai dari bisnis café, travel dan klinik kecantikan, hotel dan restoran akan di-manage MATOA. Site bisnis kami nanti di-manage by Matoa,” jelas Juwono. “Kalau Jawa Pos punya Radar-Radar di daerah-daerah. Salim Group juga punya perusahaan seperti Indofood dan Indo-Indo lainnya. Kami juga punya MATOA di mana-mana,” tegasnya.

          Itu sebabnya, dia perlu menamai media internalnya dengan MATOA. Terbitnya majalah mini ini, semua informasi tentang MATOA akan tersampaikan sesuai dengan keinginan manajemen. “Kalau kita punya media sendiri, semua memori akan terabadikan. Pasti akan bisa disimpan dan bermanfaatkan buat mereka (mahasiswa) setelah lulus nanti,” ungkap Juwono. (amu)




Sang Profesor

Figur:
“Sang Profesor” dan Orgen Itu…

          SIANG itu, suasana lobi kampus Majapahit Tourism Academy (MATOA) ramai sekali. Para mahasiswa berpakaian seragam ala chef profesional: baju putih berpadu bawahan warna gelap pada ngumpul. Mereka istirahat, setelah setengah hari menimba ilmu. Ada yang bercengkerama di pilar gedung yang dilingkari kursi santai. Tak sedikit pula yang menyatu dalam meja makan yang tersedia di café kampus.

          Di tempat yang sama, tampak, pria berpakaian rapi berbaur di antara para mahasiswa. Sesekali, dia melihat handphone di tangannya, sembari melirik tamu yang datang. “Apa kabar profesor,” sapa seorang wanita paruh baya. Pria berkacama minus itu menjawabnya dengan ramah sembari melempar senyum. “Puji Tuhan, kabar baik,” ucap pria yang membalut tubuhnya dengan kemeja bergaris vertical warna terang ini.

          Ya, begitulah keseharian Ir Juwono Saroso, Presiden Direktur Tristar Group. Kendati posisinya sudah menjadi pimpinan, dia enggan duduk manis di ruang kerjanya, yang berada di lantai dua. “Setiap hari saya harus face to face sama mereka. Biar saya tahu keluhannya dan kekurangan kita apa saja,” ucapnya kalem. Dan, kepedulian inilah yang membuat mahasiswa, serta para dosen dan pegawainya merasa nyaman tinggal di Graha Tristar, yang bertengger di Jalan Raya Jemursari 234.

          Saat disinggung soal sebutan “profesor” oleh orang tua mahasiswa tadi, Juwono menyebut gelaran itu disandangnya sejak masa sekolah. Maklum, sejak menamatkan studinya di Fakultas Kimia (MIPA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), dia memang belum lagi meneruskan karir akademisnya.  “Mulai temen sampai pendeta pada bingung, saya dikira profesor tenanan (beneran, red),” aku alumnus SMA St Louis Surabaya ini, lantas tersenyum.

          Sebutan profesor tersebut, sebenarnya bukan tanpa alasan. Di lingkungan teman sekolah dan kuliahnya, Juwono memang dikenal cerdas, kreatif dan inovatif. Dia bukan hanya menguasai mata pelajaran dan kuliah, juga selalu menjadi bintang di kelasnya. Selain itu, dia juga gigih dan ulet dalam mengarungi perjalanan hidup.
          Hal itu dirasakan Dokter Conny. Pemilik Klinik Kecantikan Naomi di Jalan Raya Tenggilis 68/S-7 Surabaya ini adalah sahabat sejati Juwono. Ada kenangan yang sulit mereka lupakan saat ujian akhir nasional (Ebtanas). “Saat itu kami dapat bocoran soal bahasa Inggris. Tapi teman-teman tidak bisa menjawab. Akhirnya kami minta bantuan profesor. Hasilnya, nilai bahasa Inggris kami baik semua, hehehe.. nilai kami rata-rata 9,” kenang Conny yang masih energik ini.

          Karena itulah, di kalangan teman-temannya, Juwono selalu dipanggil profesor. “Dia paling pinter. Penampilannya juga sudah seperti profesor beneran. Mulai dandanan rambut, kacamatanya tebal dan sepeda motornya antik,” ujar dokter umum yang kini nekuni dunia bisnis.

          Bakat Entrepenuership  Juwono sendiri mulai nampak sejak kecil. Dia mengenal dunia usaha lewat ibundanya yang memproduksi kue Kuping Tikus. Jajanan ringan ini dia pasarkan dengan menitipkan ke ibu-ibu mlijo di daerah Pandegiling Surabaya. Meski sibuk jualan, aktivitas Juwono sebagai siswa Sekolah Dasar tidak terganggu.

          Melihat peluang usaha jual kue Kuping Tikus sulit berkembang, Juwono mulai melirik peluang lain. Ibunya yang pernah menjadi guru les musik orgen dirayu agar kembali ke dunia. Pas, ada arisan sepeda motor,”Ibu ikut,” kenang Juwono. “Tapi waktu dapat betotan (narik arisan) uangnya tidak kami belikan sepeda motor. Kami belikan orgen yang harganya sama dengan harga sepeda motor waktu itu. Apalagi lagi booming-boomingnya orang beli orgen,” imbuhnya bercerita.

          Nah, dari sinilah awal Juwono belajar memainkan orgen. Kebetulan dealer penjual orgen memberi garansi kepada pembelinya untuk belajar gratis. Kesempatan ini tidak disia-siakan keluarganya. Meski untuk ukuran pemula usianya sudah kelawat umur, Juwono tak ambil pusing. “Yang paling bagus itu belajar mulai umur empat tahun. Lha saya sudah kelas tiga es-em-pe baru belajar. Jadinya, ya harus mati-matian melemaskan jari-jari yang terasa kaku,” akunya.

          Bak gayung bersambut. Kemauan yang tinggi belajar musik itu tidak bertepuk sebelah tangan. Juwono pun akhirnya menuai hasil. “Saya sering tampil solo dan konser di acara sekolah SMA,” ujarnya. Juwono juga tak jarang dapat undangan main di mall-mall dan acara hajatan teman dan sekolahnya. Dari sinilah dia mulai mendapatkan murid. “Selain ngelesi privat murid-murid itu, saya cari sambilan jadi sales orgen. Lumayan, untuk satu orgen yang terjual, saya dapat tiga persen,” kenangnya.

          Bukan hanya orgen baru yang dia jual. Orgen bekas yang harganya lebih miring juga dijualnya. “Kalau ada murid yang orgennya sudah tidak bagus, saya suruh ganti yang lebih baik, biar tambah enak suaranya. Kalau dia punya harga yang satu jutaan, saya suruh beli yang seharga lima jutaan. Lha, harga orgen terbaik waktu itu sepuluh jutaan,” akunya.

          Agar pendapatannya meningkat, Juwono juga menjual buku lagu-lagu dan panduan main musik. Tapi buku yang dipasarkan bukan buku baru atau original. “Buku-buku itu saya fotokopi dan saya jilid persis buku aslinya. Hasilnya lumayan hehehe…,” ceritanya.
          Sejak itu perekonomian keluarganya mulai membaik. Kelebihan penghasilannya bisa dipergunakan untuk kuliah, beli mobil dan kursus bahasa Inggris. Namun sayangnya, Juwono tidak mulus di keahliannya itu. Cita-citanya ingin menjadi pemusik orgen kandas lantaran dicurangi pengelola sekolah musik yang menjadi rival sekolahnya.

           “Saat itu saya bersamangat untuk juara dan bermimpi sampai tingkat dunia. Tapi impian ini kandas,” akunya. Sata mewakili Sekolah Musik Irama Mas di Tingkat Indonesia Wilayah Timur dalam Yamaha Electon Festival Indonesia di Hotel Hyatt. Syarat? Masing-masing sekolah musik harus mengirimkan pemusik terbaiknya. “Ternyata dilanggar YMI (Yamaha Musik Indonesia) yang berkantor pusat Jalan Citarum Surabaya itu. Dia mengirim dua wakilnya, dan keduanya dimenangkan, sehingga saya yang mendapat juara ke 3 tidak katut ke babak Nasioal di Jakarta” kenangnya.

          Juwono pun patah arang. “Saya gelo, muangkel (kecewa berat) sekali karena yang menang langsung mewakili nasional di Jakarta , selanjutnya tingkat Dunia diToronto Kanada. Eeh.. tibak-e (ternyata) orang yang sudah belajar mati-matian kalahe karo wong sugih (punya uang). Wis kalau gitu saya harus sugih dan banyak uang dari main elekton, gak usah ikut kejuaraan-kejuaraan,” keluh Juwono hingga matanya berkaca-kaca.

          Kendati kecewa berat, bapak tiga anak ini tidak putus asah. Kepiawaiannya di bidang musik ini tetap dia tanamkan kepada dua putrinya. Putri pertamanya Fiona Angeline Juwono, yang sudah duduk di bangku kelas tiga SMP Santa Maria Surabaya dan Cindy Octavia Juwono, kelas empat SD Vita Surabaya sudah bisa bermain musik Piano. Bahkan, tahun lalu kedua putrinya pernah diikutsertakan dalam lomba music di Singapura dan berbagai lomba di Surabaya dan Jakarta.



           “Sengaja saya ajari main Piano & Elekton agar sejelek-jeleknya nanti, mereka bisa mencari uang dari musik ini. Minimal jari guru les privat musik lah,” katanya. Juwono sendiri sampai kini masih aktif sebagai orgenis di Gereja Santo Yakobus Purimas, Rungkut Surabaya. “Malam Natal (25 Desember 2013) saya turut mengiringi koor malam Natal,” Juwono bangga, lantas tersenyum. (amu)


NAOMI Café & Resto

Utamakan Kenyamanan, Siap Jadi Konsultan

          NAOMI, tak hanya bergerak di bisnis klinik kecantikan. Anak perusahaan yang tergabung dalam MATOA (Majapahit Touris Academy) Grup ini, juga membuka usaha kulineri. Letak standnya, hanya bersebelahan.

          NAOMI Café & Resto, menawarkan jenis makanan yang berciri khas.  “Kami mengutamakan tempat makan yang nyaman. Menu yang kami sediakan juga mengandung gizi yang lezat dan sehat,” jelas ownernya dr. Conny Dharmasaputra. Dan,”Yang paling penting adalah 100 % Halal,” lanjut Conny serius.

          Makanan apa saja? Menu yang siap saji adalah makanan khas Jawa, Chinese Food dan Eropa. Masakan Jawa mulai rawon, nasi goreng , mie goreng, rujak manis, asem asem bandeng dengan menu andalan chicken cordon blue, kailan 2 rasa,  dan ayam goreng spesial naomi  tersedia di resto ini.

           “Walaupun saya belum pernah marung (buka usaha makanan), saya sering diminta masak oleh Bupati Dandung di Tanjung Tabalong, Kalimantan Selatan sana,” aku wanita kelahiran Pamekasan itu.

          Setiap kali menjamu tamu istimewanya, menurut dia, bupati selalu meminta dirinya sebagai koki. Sehingga Conny yang bergelar dokter umum ini, paham betul akan selera pejabat dan masyarakat. Terlebih lagi, soal tata cara menyajikan menu makanan yang higenis, lezat dan bergizi. Karena itu, dia akan mempertahankan kualitas pelayanan dan makanan yang sehat agar tetap eksis bersaing di bisnis kulineri.

          Khusus untuk menu Chinese Food dan Eropa, Conny sudah merekrut koki muda berpengalaman, yang lulusan terbaik MATOA. Dialah Prabu Galih Setiyo Pamungkas. Pemuda tampan dan lajang ini, akan mengandalkan masakan ala Eropa dan China.

           “Menu andalan di resto kami nanti adalah Kepiting Keju,” aku Prabu yang pernah OJT (on the job training) di  Grand Mirage Hotel dan Feyloon Chinese Resto Bali. Sedang untuk café, dia akan menyajikan makanan-makanan ringan, seperti Martabak Malabar,  Longan Special, Frech Fries dll.

          Disamping memenuhi kebutuhan konsumen, NAOMI Café & Resto juga menyediakan jasa pelatihan memasak & meracik minuman ala cafe. Bahkan, NAOMI sanggup membina konsumen yang ingin membuka usaha Café atau  Resto “Kamilah konsultannya. Mulai dari cara meramu masakan, sampai sistem manajemennya,” aku Prabu, tamatan SMA Negeri 1 Banyuwangi dan lulus MATOA 2012. (amu)



Klinik Kecantikan NAOMI

Obsesi Dokter Conny Berbuah Nyata// judul

          HAMIL adalah impian semua. Apalagi seusai melangsungkan pernikahan. Saat hamil pula, semua calon ibu dan yang sudah menjadi ibu, selalu menyiapkan nama Si Buah Hati. Dan, nama itu pula, tentu memiliki arti penting bagi kehidupan Si Mungil setelah melongok dunia.

          Obsesi untuk memberi nama Si Jabang Bayi itu, juga melekat di benak dr. Conny Dharmasaputra. Dokter umum ini punya kenangan saat hamil kedua tahun 1998.  Saat itu, dia sudah menyiapkan nama calon anak keduanya. Dan NAOMI, nama yang dipilihnya lantaran memiliki arti yang menyentuh hatinya.

           ”NAOMI itu artinya karunia Tuhan yang paling indah,” sebut wanita energik yang ingin punya momongan lagi seorang cewek ini. Namun, takdir  berkehendak lain.  Anak keduanya ternyata laki-laki. “Saya sama sekali tidak siap nama. Nama yang saya punya cuma Naomi. Karena itu, suster yang merawatnya di RS Suaka Insan Banjarmasin, memberi ganti nama John, yang artinya sama, karunia Tuhan yang indah,” cerita Conny .

          Saking ngebetnya dengan nama NAOMI, Conny saat diajak joint bisnis dengan Ir Juwono Saroso, memilih nama itu sebagai branding usahanya. “Saya terkesan sekali dengan nama itu. Nah, pas saya diajak bisnis bareng “profesor” (panggilan akrab bos MATOA Grup Ir Juwono Saroso), saya pilih nama itu. “Prof” setuju,” ujarnya lantas tersenyum.

          Joint partner Conny -Juwono ini, kemudian diabadikan dengan membangun pusat bisnis di Jalan Raya Tenggilis 68 Surabaya. Brandingnya bernama NAOMI Klinik Kecantikan dan NAOMI Café & Resto. Usaha tersebut baru dibuka dua minggu menjelang tutup tahun 2013. “Tapi kostumer saya sudah banyak, karena sebelum dibranding saya sudah praktik,” katanya.

          Conny mengaku senang sekali bisa menggunakan nama NAOMI yang diidami. Terlebih lagi, obsesinya untuk mendirikan klinik kecantikan plus usaha kuliner benar-benar menjadi kenyataan. “Dua bidang inilah yang melekat dalam diri saya. Selain seorang dokter yang suka kecantikan, saya juga menyukai masak,” aku alumunus Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta ini.

          Conny optimistis sekali, bersama NAOMI, bisnisnya akan lancar dan berkembang. Ini sesuai dengan sebutan namanya yang singkat, padat dan mudah diucapkan. Karena itulah, Conny tidak ingin obsesi bisnisnya hanya berkutat di klinik kecantikan. Ia ingin mewujudkan obsesinya sebagai dokter dan kesukaannya memasak menjadi satu kesatuan bisnisnya.

           “Makanya, di NAOMI selain bisa merawat kecantikan wanita, juga bisa menikmati hidangan kuliner,” katanya sembari mengajak masuk ke ruang café & resto, yang dibangun bersebelahan dengan kliniknya.

          NAOMI selain menawarkan berbagai perawatan klinik kecantikan, juga menyediakan perawatan kecantikan salon, refleksi serta kursus salon dan spa. “Kami tidak hanya melayani konsumen. Tapi juga siap menjadi konsultan dan melatih calon pengusaha klinik atau salon,” jelasnya. (amu)