twitter
Tristar Culinary Institute Jakarta
Telp: 021-5380668. Fax: 021-53155652.
HP: 081234506326, 081286358533. PIN BB: 53B4FED8, 2A96E298.
Ruko BSD Sektor 7. Blok RL 31-33. Serpong - Tangerang.

Sekolah Masak & Akademi Perhotelan

SEKOLAH TATA BOGA - SEKOLAH KULINER
Program Pendidikan Kuliner Diploma 1, D2 dan D3

Sistem Studi : Praktek Setiap Hari

Jurusan :
Patiseri (Baking & Pastry)

Tata Boga (Kuliner)


Jenjang Studi lanjutan S1 & S2 di Swiss.

Dengan jurusan : International Hotel and Tourism Management.


Jln. Raya Jemursari no. 244. Surabaya.

Telp: 031-8433224-25.

Flexi: 031-81639992.

HP: 0817321024.

Email: tristarkuliner@yahoo.co.id


*************************************

TRISTAR CULINARY INSTITUTE

Visi & Misi

Stuktur Kurikulum

Fasilitas

Biaya Perkuliahan

Info: Kursus Tristar 031-71933131 - 081332004197




Informasi:

*Kursus Tristar Kaliwaron

Jln. Kaliwaron 58-60. Surabaya

Jadwal Kursus Tristar Kaliwaron.

Tarif Kursus Privat di Tristar Cabang Kaliwaron.

Kids Cooking Class bersama Tristar Culinary Institute

Aneka Mesin & Peralatan Home Industry

Poduct List Tristar Machinery


*Anda ingin membuka Cafe?

Ikuti Kursus Cara Membuat Cafe

Kursus Minuman Cafe di Tristar Kaliwaron

Pages

Figur


Figur:
“Sang Profesor” dan Matoa

Ir Juwono Saroso


          SIANG itu, suasana lobi kampus Majapahit Tourism Academy (Matoa) ramai sekali. Para mahasiswa berpakaian seragam ala chef profesional: baju putih berpadu bawahan warna gelap pada ngumpul. Mereka istirahat, setelah setengah hari menimba ilmu. Ada yang bercengkerama di pilar gedung yang dilingkari kursi santai. Tak sedikit pula yang menyatu dalam meja makan yang tersedia di café kampus.

          Di tempat yang sama, tampak, pria berpakaian rapi berbaur di antara para mahasiswa. Sesekali, dia melihat handphone di tangannya, sembari melirik tamu yang datang. “Apa kabar profesor,” sapa seorang wanita paruh baya. Pria berkacama minus itu menjawabnya dengan ramah sembari melempar senyum. “Puji Tuhan, kabar baik,” ucap pria yang membalut tubuhnya dengan kemeja bergaris vertical warna terang ini.

          Ya, begitulah keseharian Ir Juwono Saroso, Presiden Direktur Tristar Group. Kendati posisinya sudah menjadi pimpinan, dia enggan duduk manis di ruang kerjanya, yang berada di lantai dua. “Setiap hari saya harus face to face sama mereka. Biar saya tahu keluhannya dan kekurangan kita apa saja,” ucapnya kalem. Dan, kepedulian inilah yang membuat mahasiswa, serta para dosen dan pegawainya merasa nyaman tinggal di Graha Tristar, yang bertengger di Jalan Raya Jemursari 244.

          Saat disinggung soal sebutan “profesor” oleh tamu tadi, Juwono menyebut gelaran itu disandangnya sejak masa sekolah SMA. Maklum, sejak menamatkan studinya di Fakultas Kimia (MIPA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), dia memang belum lagi meneruskan karir akademisnya.  “Mulai temen sampai pendeta pada bingung, saya dikira profesor tenanan (beneran, red),” aku alumnus SMAK Saint Louis Surabaya ini, lantas tersenyum.

          Sebutan profesor tersebut, sebenarnya bukan tanpa alasan. Di lingkungan teman sekolah dan kuliahnya, Juwono memang dikenal cerdas, kreatif dan inovatif. Dia bukan hanya menguasai mata pelajaran dan kuliah, juga selalu menjadi bintang di kelasnya. Selain itu, dia juga gigih dan ulet dalam mengarungi perjalanan hidup. 



          Bakat Entrepenuer-nya mulai kelihatan sejak kecil. Diawali dengan membantu ibundanya berjualan kue Kuping Tikus, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Jajanan ringan ini, dia titipkan ke ibu-ibu mlijo di daerah Pandegiling Surabaya. Saat menginjak SMP, Juwono sudah menjadi  guru les privat organ dan piano. Dia benar-benar mandiri sejak usia sekolah. “Mama dan papa mengajarkan kepada kami agar tidak putus asa. Bekerja keras dan terus belajar,” tegasnya.

          Buah kerja keras dan belajar inilah yang membuat Juwono tidak  pernah goyah dengan dinamika kehidupan. Saat masih menjadi mahasiswa, dia sudah mampu menjadi investor sebuah home industry, yang memproduksi Stemvet & oli samping warna merah dan hijau untuk motor 2-tak. Hasil produksinya, dipasarkan di pedagang bensin eceran. Hanya dalam setahun, 1991-an, usahanya membooming. Dia pun harus mempekerjakan lima orang bergaji.

          Malang tak bisa ditolak. Tatkala usahanya mulai berkembang pesat, salah seorang sales yang direkrutnya, ngemplang uang perusahaan. “Uang tagihan  dipakai kepentingan pribadi. Tentu saja klien saat ditagih marah-marah,” kenangnya. Akibatnya, pelanggan tersebut melaporkannya ke pihak yang berwajib. “Saya dituduh oli samping yang kami produksi tidak berijin,” imbuhnya.

          Karuan saja,  usaha yang diproduksi secara kolaborasi antara dosen pembimbingnya di ITS Anton J Hartono dengan Kakak Mamanya Liong Guan itu ditutup. Juwono pun harus bertanggungjawab. Dia habis-habisan berurusan dengan aparat. Harta benda hasil keringatnya ludes. Mulai piano, organ kesayangan, sampai mobil hasil tabungannya habis dilego. “Anda kan tahu sendiri, kalau berurusan dengan polisi, ibarat kita kehilangan kambing, sapipun melayang,” kilahnya.

          Efek dari peristiwa itu, membuat Juwono langsung kolaps. Dia menganggur setelah tamat kuliah. Beruntung sekali, ijazah yang digenggamnya pada 1991, bisa dipergunakan masuk menjadi karyawan PT Tambak Agung Abadi di Mojokerto. Di pabrik gula cair yang bahan bakunya dari singkong ini, dia ditempatkan di bagian Quality Control (QC) dan Research & Development (R&D). Hanya dua tahun bekerja, kemudian dia resign dan memilih pulang ke Surabaya.

          Juwono agaknya lebih suka bekerja yang sesuai dengan bidangnya, chemistry. Tak heran jika tawaran orang tua muridnya tak ditolak. Di PT Hair Star Indonesia (HSI)  inilah, dia meniti karir baru. Di perusahaan yang memproduksi rambut dan wig berkualitas ekspor dan pengapalan di AS itu, Juwono menduduki jabatan sebagai manajer R&D. Selama tiga tahun bekerja di HSI, pria supel ini mempelajari tentang shamphoo, conditioner, pewarnaan rambut, obat keriting dan sebagainya.




          Hasilnya? Ilmu tersebut bisa ditularkan kepada keluarganya  dengan membuka usaha home industry. Di rumah mama dan kakaknya, Juwono mampu memproduksi samphoo, conditiomer (cream bath), hand shop, sabun cuci piring dan pembersih lantai.

          Dirasa sudah cukup menimba ilmu di HSI, dia mencari tantangan baru. Bekerja sebagai tenaga marketing dan technical support PT Ardaya, yang bergerak di bidang supplier chemical. Pekerjaan ini dijalaninya selama tiga tahun sejak 1994. Juwono sengaja memilih pekerjaan barunya, agar usaha orang tua dan kakaknya berjalan lancar. Selain itu, dia juga bisa berkomunikasi dengan pabrik-pabrik kosmetik sekelas PT Johnson and Johnson, Unilever, La Tilips dan berbagai home industry terkait.

          Ada satu lembaran sejarah yang sulit dilupakan. Yaitu,  saat menjelang hengkang dari PT HSI ke PT Ardaya, Juwono bertemu dengan seorang gadis bernama Evi Muliasari Dewi. Gadis tamatan  Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) ini yang menggantikan posisinya. Namun sebelum meninggalkan perusahaan, dia harus men-training Evi selama dua bulan. Bak gayung bersambut, benih cinta kedua insan ini akhirnya bersemi. “Awalnya saya gak mengenalnya. Tapi, namanya witing trisno soko nggelibet, akhirnya dia jadi istri saya,”  kenang Juwono dengan wajah sumringah.

          Bersama Evi, Juwono mulai membuka lembaran usaha baru. Mereka membuka home industry di rumah kontrakan Jalan Medokan Ayu. Bidang usaha membuat pelembut pakaian itu, berhasil diproduksi untuk laundry di perhotelan. Di tahun yang sama, 1997, dia bekerjasama dengan salah seorang importer bahan kimia, PT Sinar Kimia membentuk perusahaan baru PT Tricipta Agung Sejahtera. Bersama Freddy dan Ronny, dia berbagi saham.

MENIKAHI EVI MULIASARI DEWI

Evi Mulyasari Dewi

          Usaha partneran ini dijalaninya selama setahun. Pada tahun 1998, Ir Juwono Saroso akhirnya menentukan pilihan menikahi Evi Muliasari Dewi. Pengantin baru ini lantas mengurus ijin usaha sendiri dengan mengibarkan bendera CV Tristar Chemical. Nah, saat itulah awal mulanya nama Tristar muncul. “Kami memilih nama Tristar itu  nggak ada tujuan dan arti apa-apa. Pokoknya nama itu baik dan saya tidak berfikir soal filosofinya,” kenang Juwono.

          CV Tristar Chemical sendiri kala itu, hanya memproduksi pelembut pakaian tanpa merek dan menjualnya secara curah. Harganya murah karena tanpa kemasan. Selain memproduksi, perusahaan ini juga membuka peserta kursus (pelatihan), meski sebelumnya sempat ditentang orang tuanya.

          Keputusan mengintegrasikan kursus dan jual bahan baku itu ternyata berbuah manis. Pasalnya, saat kursusan ramai dan peminatnya antre, maka permintaan bahan baku dan mesin juga meningkat. Dia pun harus mendesainkan sendiri mixer untuk sabun, shampoo dan produk kosmetik.

          Jadi setelah kursus, peserta beli bahan baku. Selanjutnya peserta pesan mesin untuk mendukung produksinya. Dampaknya, usaha Juwono ramai dan bahan baku serta mesin pendukungnya laris manis. Pelaku industri rumahan pun, tumbuh bak jamur di musim penghujan.

          Merasa tersaingi, beberapa perusahaan besar membuat second produk dengan harga bersaing dengan produk industri rumahan. Misalnya, So Klin meluncurkan Daia (sabun low end), Molto keluarkan produk pelembut pakaian dan pewangi dengan harga ekonomis. Akibatnya, sejumlah pelaku industri rumahan terpukul, usahanya jadi sepi dan tidak menarik lagi untuk pelaku bisnis ini. Bahkan  tidak sedikit pelaku usaha ini yang terpaksa gulung tikar.

          Untuk membangkitkan semangat usaha pelaku industri rumahan, Juwono dan Evi memberi solusi dengan menambah varian kursus. Misalnya dengan mulai mengajarkan cara bikin sirup, permen, minuman dalam kemasan, snack (chiki-chiki secara manual), yang terinspirasi dari pengalaman membuat kuping tikus.

          Dulu lapisan kuping tikus hanya dibalut gula, sekarang dikreasi dengan rasa barbeque, keju dan balado. Bumbu tersebut ternyata cocok untuk kentang goreng bumbu (french fries). Ini dilakoni antara 1999 hingga 2000-an. Kursusan yang paling ramai peminatnya adalah Jelly Cup dan Nata de Coco. Dari sini pihaknya kenal dengan Nani Wijaya dan Vivi (dari Tabloid Nyata dan Koki).

          Dia pun membuka pelatihan Nata de Coco, pelatihan membuat snack, pelatihan membuat permen, pelatihan membuat minuman dalam kemasan sampai dengan pelatihan aneka handicraft (lilin, tempelan kulkas, daur ulang kertas, souvenir pernikahan dan sejenisnya). Dari pengalaman ini, dirinya kemudian mencari guru-guru (pengajar) yang ahli di bidangnya agar pelatihan bertajuk Home Industry Class (HIC) yang didukung media cetak tersebut mendapat respons luar biasa dari masyarakat.

          Dari perkenalan degan Nani Wijaya itulah, dia akhirnya juga kenal dengan Harian Radar Surabaya dan selanjutnya berkolaborasi menggelar pelatihan membuat cat tembok, pelatihan chroom, pelatihan membuat rokok, pelatihan otomotif cleaner (membuat shampoo mobil) dan sebagainya.




           Untuk menggarap pelatihan food industry, dirinya merasa selalu mendapat saingan dari pelaku industri besar, yang impor permen dan minuman dalam kemasan dari luar negeri seperti  frutang, ale-ale, inaco, wong coco, sirup ABC low grade, dan sebagainya. Akibatnya, usaha food industry skala rumahan terpukul lagi.

          Menyikapi hal tersebut, dirinya banting setir dengan membuka pelatihan bikin bakso dan mie, meskipun sudah ada mie instan buatan pabrik besar, tetapi usaha ini masih berkibar, seperti mie ayam kaki lima tetap jalan. Untuk pelatihan ini peserta diajarkan dengan menggunakan mesin-mesin industri dan manual.

          Selain itu, peserta pelatihan membuat bakso dan mie juga dikenalkan cara menggunakan mesin pencetak bakso, mesin giling mie, mesin presto bandeng, ayam tulang lunak, dan sebagainya.

          Terinspirasi pelatihan kuliner yang melibatkan guru-guru dari luar, pihaknya bisa kenal dengan chef Fuuzi dari Hotel Tunjungan. Chef Fuuzi mengajarkan cara membuat kebab Turki ala Baba Rafi.

          Dia juga kenal baik dengan Yanuar Kadaryanto saat mencoba bikin siomay dan siobak. Selain itu, juga kenal dengan Cicilia dan Petrus untuk belajar meramu minuman café ala hotel berbintang. Tidak hanya itu, dirinya juga bisa kenalan dengan Otje Wibowo ketika kali pertama menggelar pelatihan cara membuat terang bulan.

TRISTAR
          Sekitar 2007, atas masukan dari Titi Kasiati, Cicilia, Tri Hartono, Otje Wibowo dan Yanuar Kadaryanto, mereka mengusulkan kepada pihaknya membuka sekolah kuliner. Akhirnya sepakat menggelar meeting dan rapat-rapat intensif di Golden City Mall (Goci Mall), kawasan Dukuh Pakis Surabaya, sehingga lahirlah Tristar Culinary Institute (TCI) pada 7 Januari 2008. Kantor dan tempat pelatihannya di Jl Raya Jemursari 234 Surabaya.

          Dalam kurun waktu tiga tahun, TCI semakin berkibar. Nama TCI mulai diperhitungkan pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan usaha kuliner dan industry pariwisata (tour & travel dan perhotelan). Lompatan besar dilakukan Juwono yang memboyong TCI sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan menempati gedung baru Graha Tristar pada 29 November 2011. Gedung baru berlantai lima yang berlokasi di Jl Raya Jemursari 234 ini didesain  mewah dan sangat representatif untuk kegiatan belajar mengajar para mahasiswa jurusan pastry, culinary, tour & travel dan perhotelan.

          Pasalnya, Graha Tristar ini didesain sedemikian rupa sehingga para mahasiswanya betah belajar di kampus karena selain tersedia ruang kelas ber-AC, juga tempat praktik yang representatif.  Pengelola Tristar Culinary Institute –sekarang berkembang, namanya menjadi Akademi Pariwisata Majapahit—di bawah Yayasan Eka Prasetya Mandiri, juga melengkapi gedung barunya itu dengan berbagai fasilitas penunjang seperti  laboratorium tour planning & guiding, lab front office, lab bartending, lab housekeeping, lab laundry & pastry, ruang perpustakaan, fasilitas wi-fi  untuk internetan.

          Di gedung baru Graha Tristar tersebut juga dilengkapi ruang receptionist, front office, ticket counter, café, toko bahan kue, dapur pastry dan culinary berstandar internasional,  lobi yang luas dan nyaman. Tak heran jika dalam kiprahnya selama ini, Akpar Majapahit banyak diminati calon mahasiswa yang ingin memerdalam pendidikan di bidang pastry, culinary, tour & travel dan perhotelan, dengan Gelar D3 (ahli madya).

          ”Sementara itu, tenaga pengajarnya adalah dosen-dosen profesional di bidangnya seperti Otje Wibowo, Yanuar kadaryanto dan sejumlah praktisi industri jasa pariwisata demi memujudkan learning by doing and being. Diantara dosen-dosen itu sekarang menempuh kuliah S-2 sesuai bidangnya masing-masing,” kata Hedy W Saleh, Direktur Akpar Majapahit.

MATOA
          Kiprah Ir Juwono Saroso di bidang pendidikan ini benar-benar tidak bertepuk sebelah tangan. Tidak sedikit masyarakat yang tahu akan sepak terjangnya. Sukses Akpar Majapahit di Surabaya, telah mengilhami lahirnya kampus-kampus baru. Di Surabaya, Akpar Majapahit sudah membangun tempat pendidikan lagi yang dinamai Tristar Istitute yang berlokasi di Jalan Kaliwaron. Di Tangerang juga berdiri Tristar Institute, yang kampusnya berdiri di Bumi Serpong Damai (BSD).

          Tristar Institute lebih menitikberatkan pada bidang profesionalisme dan non-gelar. Mereka hanya belajar dua tahun. Tapi, menurut Juwono, mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi di Akpar Majapahit. Selain mengembangkan sayap di BSD dan Kaliwaron, Akpar Majapahit juga bekerjasama dengan Pemerintah Timor Leste membuat Kristal Fundacao. “Universitas Trisakti Jakarta juga kami gandeng sebagai kepanjangtanganan Akpar Majapahit,” jelasnya sembari menyebut ada 15 orang dosen dari Akpar Majapahit yang mendapat kesempatan melanjutkan kuliah S-2 di Trisakti.

          Juwono mengakui seiring pesatnya perkembangan Akpar Majapahit yang telah melahirkan alumnus serta dosen yang berkualitas, pihaknya merasa perlu mewadahi mereka dalam satu lembaga tersendiri. Adalah Matoa, nama yang dipilihnya. Matoa adalah kependekan dari nama Majapahit Tourism Academy. “Legalitas Matoa sedang kita proses akte notarisnya,” katanya.

          Matoa inilah yang nantinya akan menjadi ujungtombak pengembangan usaha Akpar Majapahit. “Saya berharap para dosen dan alumni bisa menjadi pendamping atau konsultan para entrepreneur yang ingin membangun, mengembangkan usahanya yang selaras dengan program pendidikan di Akpar Majapahit,” jelas Juwono.

          Mengapa memilih nama Matoa? Alasannya cukup sederhana. Matoa dipilih lantaran saat membuat website nama Majapahit.com dan Tristar.com sudah ada yang memakai. Begitu pula nama Matoa.com. “Akhirnya saya pakai nama matoa.info.com,” jelasnya. Nah, dengan adanya Matoa.info ini, telah mengilhaminya untuk membuat majalah sendiri sebagai sarana info tentang seluk beluk Majapahit Tourism Academy (Matoa)

          Terlebih lagi, kata Matoa mudah diucapkan dan semua orang tahu bahwa Matoa juga dikenal sebagai nama buah terkenal di Papua. “Cuma saya tidak pernah tahu buah dan rasanya,” aku Juwono seraya mengaku tidak punya pikiran filosofis ketika memilih nama institusi yang akan dipatenkan itu.

          Yang pasti, dia berharap Matoa nantinya memliki branding yang tak kalah ngetopnya dari Tristar dan Akpar Majapahit. “Saya berharap bisnis-bisnis kami mulai dari bisnis café, travel dan klinik kecantikan, hotel dan restoran akan di-manage Matoa. Site bisnis kami nanti di-manage by Matoa,” jelas Juwono. “Kalau Jawa Pos punya Radar-Radar di daerah-daerah. Salim Group juga punya perusahaan seperti Indofood dan Indo-Indo lainnya. Kami juga punya Matoa di mana-mana,” tegasnya.

          Itu sebabnya, dia perlu menamai media internalnya dengan Matoa. Terbitnya majalah mini ini, semua informasi tentang Matoa akan tersampaikan sesuai dengan keinginan manajemen. “Kalau kita punya media sendiri, semua memori akan terabadikan. Pasti akan bisa disimpan dan bermanfaatkan buat mereka (mahasiswa) setelah lulus nanti,” ungkap Juwono. (*)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar