twitter
Tristar Culinary Institute Jakarta
Telp: 021-5380668. Fax: 021-53155652.
HP: 081234506326, 081286358533. PIN BB: 53B4FED8, 2A96E298.
Ruko BSD Sektor 7. Blok RL 31-33. Serpong - Tangerang.

Sekolah Masak & Akademi Perhotelan

SEKOLAH TATA BOGA - SEKOLAH KULINER
Program Pendidikan Kuliner Diploma 1, D2 dan D3

Sistem Studi : Praktek Setiap Hari

Jurusan :
Patiseri (Baking & Pastry)

Tata Boga (Kuliner)


Jenjang Studi lanjutan S1 & S2 di Swiss.

Dengan jurusan : International Hotel and Tourism Management.


Jln. Raya Jemursari no. 244. Surabaya.

Telp: 031-8433224-25.

Flexi: 031-81639992.

HP: 0817321024.

Email: tristarkuliner@yahoo.co.id


*************************************

TRISTAR CULINARY INSTITUTE

Visi & Misi

Stuktur Kurikulum

Fasilitas

Biaya Perkuliahan

Info: Kursus Tristar 031-71933131 - 081332004197




Informasi:

*Kursus Tristar Kaliwaron

Jln. Kaliwaron 58-60. Surabaya

Jadwal Kursus Tristar Kaliwaron.

Tarif Kursus Privat di Tristar Cabang Kaliwaron.

Kids Cooking Class bersama Tristar Culinary Institute

Aneka Mesin & Peralatan Home Industry

Poduct List Tristar Machinery


*Anda ingin membuka Cafe?

Ikuti Kursus Cara Membuat Cafe

Kursus Minuman Cafe di Tristar Kaliwaron

Pages

Berwisata sembari Buka Cakrawala Mahasiswa

Study Tour


          UNTUK kali kedua mahasiswa perhotelan MATOA (Majapahit Tourism Academy) melakukan kunjungan wisata pelajar  atau Study Tour. Ini merupakan agenda kurikulum kampus yang harus dilakukan para mahasiswa. Setelah berwisata sambil belajar di Batu, pada 17-20 November 2013, mereka berkunjung ke  Pulau Dewata Bali.

          Bali menjadi destinasi kedua, lantaran di kota ini memiliki ragam pendidikan yang pas untuk 30 mahasiswa perhotelan. Di kota ini mereka bisa melihat dan merasakan langsung proses pengelolaan dan pelayanan hotel  bintang tiga sampai lima. “Sebagai orang hotelier mereka bisa merasakan saat dia bekerja nanti. Bagaimana posisi mereka sebagai tamu atau karyawan,” jelasnya.

          Selain itu, menurut Kaprodi MATOA Paulus Sutrisno S.st Par, para mahasiswa bisa mengambil pelajaran manajemen perhotelan yang ada di Surabaya, Batu dan Bali. Terlebih lagi, Bali memiliki resort yang tidak dipunyai kedua kota tersebut. “Dari sini, kami berharap mahasiswa bisa membuka cakrawalanya untuk menjadi bisnisman di bidang perhotelan dan seluk-beluknya,” jelas Paul.

          Selain study tour, MATOA juga bisa melirik peluang kerjasama antara manajemen dengan pihak perhotelan di Bali, jika ada mahasiswa yang ingin bekerja. “Ada tujuh hotel bintang lima dan hotel jaringan lain yang sudah kami gaet,” terang pria bersahaja ini.

          Selama di Bali, para mahasiswa  yang rata-rata sudah pernah berbisnis dan ingin mengembang dan mengkualitaskan usahanya juga tertarik di sektor lain. Terutama yang ingin mengembangkan usaha kulineri. “Tambahan ilmu yang didapatkan selama study tour akan menambah kemampuan mereka untuk berimprovisasi setelah lulus nanti,” aku Paul.

          Hal ini juga digarisbawahi oleh Yudha Agustian. Chef muda andalan MATOA tersebut melihat mahasiswa jurusan F&B (foot and baverage) juga mendapat pasokan ilmu dan pengalaman, saat berkunjung ke hotel berbintang lima. “Cocok untuk mereka yang akan berbisnis café,” ucap pengelola D’Histeria Café Rungkut Surabaya ini.

          Terutama saat mengunjungi resort di Pantai Pandawa Sanur. Lima mahasiswa yang tergabung di D’Histeria mendapat kesempatan pamer kebolehan. “Mereka bisa ber-flering juggling di hadapan pengunjung café, yang rata-rata pengunjungnya orang bule,” Yudha tersenyum.

          Diharapkan sepulang dari darma wisata anak asuhnya mampu mengombinasikan ilmu yang diperoleh di kampus dan di lapangan. Apalagi para mahasiswa semester tiga ini masih akan menyelesaikan study tour tingkat Asianya.  Adalah Thailand yang bakal menjadi destinasi sekitar 67 mahasiswa  pada Maret 2014. “Sebelum ini mahasiswa MATOA pernah study tour di Singapura, mengunjunginya sekolah internasional Singapura AT Sunrise,” jelas Yudha.

 KESAN MEREKA
          Cukup melelahkan memang, kunjungan wisata belajar para mahasiswa MATOA ini. Namun keletihan itu serasa sirna tatkala mereka bisa memetik ilmu yang selama ini tidak pernah didapatkannya. Hal ini diakui lima mahasiswa yang ditemui sepulang dari Bali.

          Arinta Girindra Wardana misalnya. Tamatan  SMA Sasana Bhakti Surabaya ini mengaku sudah bisa membayangkan jika setelah lulus nanti membuka usaha bar dan café. Antara teori di kampus dan praktek di lapangan sangat sinkron. “Malah saya akan mampu melakukan pengembangan dan inovasi,” akunya sembari tersenyum.

          Di sektor perhotelan, Arinta terarik dengan housekeeping. Terutama cara kerjanya yang kongkrit dan solid. “Waktu yang mereka butuhkan sangat pendek, tapi kami bisa menyelesaikan pekerjaan  room to room dengan cepat dan tepat,” katanya.

          Kesan Arinta ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Choirun Nisa juga mencatat hal yang sama. Gadis tamatan  SMK 3 Probolinggo, yang suka dipanggil Nisa Qoeen ini, terkesan dengan pelayanan terhadap tamu hotel. “Mereka murah senyum, ramah dan selalu kontak dengan tamu. Pelayan harus siap mendengarkan tamu serta merespon setiap pelayanan,” katanya.

          Khusus di study tour kali ini, Nisa sengaja memusatkan perhatiannya di bidang pastry. Ia tertarik sekali dengan kue muih yang tersaji di hotel bintang lima sekelas Aston Hotel. “Saya suka dengan coffee shop dengan display desert seperti cheese café, panakota, rainbow cake dan lain-lain. Di display panakota milsalnya, bisa diinovasi  dengan kiwi dan salat panakota.” Jelas mahasiswi yang pingin  jadi chef  dan inovator kue tradisonal dengan modern ini.

          Lain halnya dengan Hizkia Valeri. Mantan pelajar SMK 17 Agustrus Surabaya ini justru tertarik saat berkunjung di Sanbur Beach. Dia melihat peralatan loundry yang selama ini hanya bisa dilihat di buku-buku, kali ini bisa melihat langsung barangnya.  Terutama melihat proses mesin cuci hingga pakaian keluar jadi bersih dan rapi. “Saya tertarik usaha di bidang jasa untuk orang-orang rumahan yang ditinggal pembantunya mudik,” akunya.

          Selain itu, selama berstudi wisata dia sudah mulai bisa membedakan pelayanan dan pengelolaan hotel resort dan hotel bisnis. Pengunjung hotel resort yang berada di tempat wisata lebih banyak dipergunakan untuk bersantai. Sedangkan hotel bisnis pengunjungnya lebih banyak serius memikirkan pekerjaan dan usahanya.

          Begitu pula di mata Nurina dan Anastasia. Mahasiswi tamatan  SMK Satya Widya SBY dan SMA Hangtua Sidoarjo ini semakin paham tentang hotel berbintang dan tidak. “Di hotel Bintang Duua pelayanannya nggak ada. Kami dibiarkan dan di telantarkan. Tidak ada sambutan walaupun fasilitas hotel ada kolam renangnya,” keluh Nurina.

          Anastasia juga merasakan hal yang sama. Namun dia terkesan sekali ketika menginap di hotel bintang lima. “Rasa capek jadi hilang, karena happy fun. Banyak kenangan yang saya dapatin. Terutama bisa ngobrol sama turis sebagai praktek berkomunikasi,” kenangnya.

SESUAI JADWAL
          Agenda study tour mahasiswa MATOA sendiri tidak molor banget. Malah sesuai jadwal yang ditentukan. Hari pertama, mereka berkunjung ke  STP (Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dunia) selama tiga jam. Di kampus ini mahasiswa memperoleh materi perkenalan kampus serta Tanya jawab yang dihadiri senat.

          Hari kedua berkunjung ke hotel bintang 3 dan 4 di daerah Sanur. Aktivitasnya sama. Yaitu perkenalan dan melihat langsung pelayanan dan manajemen hotel, termasuk di hotel bintang lima, Aston Hotel. Dari sini, mahasiswa melanjutkan perjalanan ke wisata oleh-oleh di Krisna Denpasar.

          Sebelum kembali ke Surabaya, hari ketiga melakukan kunjungan ke travel besar di Denpasar, Astina dan mengunjungi Bedugul. (amu)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar