twitter
Tristar Culinary Institute Jakarta
Telp: 021-5380668. Fax: 021-53155652.
HP: 081234506326, 081286358533. PIN BB: 53B4FED8, 2A96E298.
Ruko BSD Sektor 7. Blok RL 31-33. Serpong - Tangerang.

Sekolah Masak & Akademi Perhotelan

SEKOLAH TATA BOGA - SEKOLAH KULINER
Program Pendidikan Kuliner Diploma 1, D2 dan D3

Sistem Studi : Praktek Setiap Hari

Jurusan :
Patiseri (Baking & Pastry)

Tata Boga (Kuliner)


Jenjang Studi lanjutan S1 & S2 di Swiss.

Dengan jurusan : International Hotel and Tourism Management.


Jln. Raya Jemursari no. 244. Surabaya.

Telp: 031-8433224-25.

Flexi: 031-81639992.

HP: 0817321024.

Email: tristarkuliner@yahoo.co.id


*************************************

TRISTAR CULINARY INSTITUTE

Visi & Misi

Stuktur Kurikulum

Fasilitas

Biaya Perkuliahan

Info: Kursus Tristar 031-71933131 - 081332004197




Informasi:

*Kursus Tristar Kaliwaron

Jln. Kaliwaron 58-60. Surabaya

Jadwal Kursus Tristar Kaliwaron.

Tarif Kursus Privat di Tristar Cabang Kaliwaron.

Kids Cooking Class bersama Tristar Culinary Institute

Aneka Mesin & Peralatan Home Industry

Poduct List Tristar Machinery


*Anda ingin membuka Cafe?

Ikuti Kursus Cara Membuat Cafe

Kursus Minuman Cafe di Tristar Kaliwaron

Pages

Kunjungi Peternakan, Komunitas Muslim dan Berburu Kuliner Khas Qinghai


Oleh-oleh Juwono Saroso dari Negeri Tirai Bambu atas Undangan Pemerintah China

          Presdir Tristar Group Ir Juwono Saroso bersama family –Pramono (papa), Koo Sing Han (om) dan kolega bisnisnya dari Palembang Hendrik, Ny. Hendrik dan Brigitta Aisa (anak perempuan Hendrik), memenuhi undangan Pemerintah China untuk melihat dari dekat peternakan dan rumah potong hewan terbesar di Qinghai, provinsi Xining (China Tengah), pada 27-30 Juni 2013 lalu. Berikut kisah perjalanannya dari Negeri Tirai Bambu.

          UNDANGAN istimewa itu dinilai Juwono Saroso sebagai kehormatan karena informasi dari kolega bisnisnya Hendrik, delegasi kecil pebisnis dari Indonesia ini selain akan dipertemukan dengan sejumlah pelaku usaha dari Provinsi Xining, juga diajak melihat langsung denyut kehidupan masyarakat di Provinsi Xining, terutama aktivitas peternak dan RPH di Qinghai, kota di dataran tinggi (ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut) yang berhawa dingin.


          Sesuai run down yang disusun Brigitta Aisa (seperti yang biasa di-handle oleh pebisnis tour & travel), rombongan bertolak dari Surabaya ke Beijing pada Kamis, 27 Juni 2013 pagi. Transit di Kualalumpur dulu memakan waktu berjam-jam –untuk tidak bilang lama, baru pesawat melanjutkan perjalanan ke Beijing dan pesawat mendarat di Bandara Beijing sekitar pukul 01.00 waktu setempat (dini hari).

          Rombongan langsung melanjutkan penerbangan selama tiga jam dari Beijing ke Xining. Sesampai di Xining, Juwono dan rombongan check in  hotel. Istirahat sebentar, siang hingga sore (Jumat, 28 Juni 2013) mengikuti program city tourn yang telah disiapkan Brigitta Aisa sebagai tour leader-nya. Brigitta adalah putri Hendrik yang baru saja menyelesaikan kuliah (diwisuda) di China.

          Dalam city tour di Qinghai (ibukota Xining) tersebut, antara lain mengunjungi masjid terbesar di Qinghai, sekolah Islam (madrasah), pasar tradisional hingga resto yang menyajikan aneka makanan dan minuman berlabel halal yang menjadi ciri khas komunitas muslim di Qinghai. Boleh dikatakan Qinghai merupakan kota bernuansa Islam di China.


 
Add caption

          Ciri khas masjid di Qining mirip bangunan masjid Cheng Ho di Surabaya, Selain kubah masjid juga ada tower seperti pagoda. Komunitas muslim di Qinghai bisa dikenali dari pakaian. Untuk pria ada ciri khas berupa kopiah bulat dan motif renda, sedangkan wanitanya memakai kerudung dengan baju panjang (hijab). Pada padan pakaian muslim di Qinghai merupakan perpaduan budaya China, Asia Tengah dan dunia Arab.

          Perpaduan budaya ini juga tercermin dari interior kamar hotel yang diinapi Juwono dan rombongan. Ini yang mencerminkan kekhasan muslim di Qinghai. Begitu juga keberadaan pasar tradisional yang unik bisa dinikmati saat Juwono dan rombongan mencoba berbelanja dan berinteraksi dengan sejumlah pedagang.

          Di pasar tradisional itu, lapak-lapak pedagang didesain ala sepeda berroda tiga berjajar rapi di kiri kanan jalan. Untuk menghindari sengatan matahari, pedagang melengkapi lapak sepedanya dengan payung berukuran besar, sehingga lebih nyaman kala menjajakan dagangannya. Sedangkan pemilik stan permanan (toko) menata barang dagangannya di etalase maupun ditaruh di dalam kontainer  (dari plastik) secara rapi, sehingga pasar terlihat bersih.

          Komoditas yang ditawarkan, mulai aneka jenis kain, daging segar, sayur dan buah-buahan seperti anggur, apel, buah tho, leci, jeruk, pisang, semangka, timun mas. Juga tersedia aneka rempah-rempah mulai daun teh hijau, polong-polongan (walnut, kacang tanah), kuaci, jagung (zebra), dan sebagainya. Di pasar tradisional itu, Juwono juga menjumpai gilingan batu untuk menghancurkan (menumbuk) biji ginko biloba atau biji-bijian yang lain.

          Malam hari, Juwono dan rombongan mendapat kehormatan dari tuan rumah untuk menikmati dinner VIP khas Qinghai. Di jamuan malam itu, tersedia meja bulat yang bisa muter otomatis untuk menampung 15 orang. Menu yang disajikan  ada 20 macam, semuanya enak dan menggugah selera. Menu yang tersaji antara lain daging panggang (yak) dan domba, martabak ala Qinghai, aneka olahan jamur, scalep kijang (rusa).

          Uniknya, ditengah menikmati hidangan, ada acara minum arak dan diiringi musik tradisional daerah Qinghai (dua penyanyi lokal). Agenda minum arak ini tujuannya untuk penghangat tubuh dan tidak memabukkan karena porsinya per orang maksimum empat sloki.
                           
                           


          Setelah puas melihat komunitas muslim di Qinghai, keesokan harinya, Sabtu (29 Juni 2013) pagi, Juwono dan rombongan dari hotel siap-siap bertolak ke pabrik daging terbesar di Qinghai melihat dari dekat peternakan dan rumah potong hewan di Qinghai. Perjalanan darat dari hotel ke peternakan ditempuh sekitar empat jam.

          Pusat peternakan dan fasilitas RPH di Qinghai yang cukup luas, lengkap dan megah. Di area peternakan itu juga tersedia fasilitas penginapan dengan 30 kamar. Fasilitas berikutnya adalah yak milk bar (minum susu yak sambil melihat yak di padang rumput). Hewan ternak yang dominan adalah jenis sapi bule dan berbulu (yak), domba dan rusa. Lokasi perternakan di Qinghai berada pada ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut (dpl).

          Dengan ketinggian itu wajar jika kandungan oksigen-nya relatif minim. Dengan kondisi lingkungan fisik seperti itu, tak pelak lagi jika selama perjalanan dari hotel ke peternakan yak, rombongan diberi vitamin dan tidak boleh tidur. Jika sampai dilanggar maka tamu terancam akan kehabisan oksigen dan berakibat fatal (meninggal). Dalam perjalanan tersebut Juwono menyempatkan diri mampir di daerah wisata disana & foto memakai baju adat daerah setempat.

          Sesampai di pusat peternakan terbesar di Qinghai, Juwono heran dengan keberadaan sapi bule dan berbulu. Hewan ternak ini memang unik di dunia. Di Qinghai, yak berbiak dengan baik apalagi juga didukung oleh padang rumput yang luas sehingga populasinya tinggi. Selain yak, rombongan juga melihat ternak domba dan rusa yang terlihat gemuk-gemuk dan berbulu tebal.

          Di RPH tersebut, yak diambil daging dan kulitnya, sedangkan domba dimanfaatkan daging dan bulunya (dibikin kain wol). Untuk rusa (kijang), selain diambil dagingnya, juga tanduknya dipanen setahun sekali untuk campuran obat kuat. Tidak hanya itu, darah tanduk rusa satu mangkok kecil dihargai 100 yuan (1 yuan kursnya sekitar Rp 1.700,00).

          Menurut Juwono, jika pengusaha Indonesia berminat impor yak dari Qinghai China, risikonya cukup tinggi dan diperkirakan tidak bisa bertahap hidup kalau dikirim hidup-hidup ke Indonesia yang beriklim tropis, kecuali ada perlakukan khusus.Namun kalau yang didatangkan itu berupa daging beku, maka peluangnya cukup terbuka lebar.

          ”Namun importer daging dari Indonesia tidak perlu patah semangat karena di Provinsi Shandong, ada yak hibrida, yang merupakan sapi varietas unggul. Nah, kemungkinan jenis inilah yang kelak bisa didatangkan dari China untuk memenuhi kebutuhan protein hewani penduduk Indonesia,” terang ketua Yayasan Eka Prasetya Mandiri, pengelola Akademi Praiwisata Majapahit. (*/ahn)






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar